Akademisi dan Masyarakat Pedalaman Bersinergi Mengubah Potensi Lokal Menjadi Peluang Ekonomi di Desa

1781250108983.JPG
Gambar: Foto bersama Hari Pertama Kegiatan ( Marlen ) Sumber: https://metut.desa.id/

Di tengah keterbatasan akses dan tantangan pembangunan yang masih dihadapi masyarakat pedalaman, harapan untuk meningkatkan kesejahteraan terus tumbuh melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan Penerapan Inovasi Teknologi Tepat Guna Berbasis Potensi Lokal untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Pangan melalui Inokulan Gaharu, Pupuk Organik, dan Produk Olahan Ikan yang berlangsung di Desa Metut, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Selama tiga hari, sejak 30 April hingga 2 Mei 2026, Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Metut menjadi ruang belajar bersama bagi 40 peserta yang terdiri dari masyarakat desa, kelompok usaha perhutanan sosial, serta para pemangku kepentingan. Kegiatan ini melibatkan perwakilan Kecamatan Masehu, UPTD KPH Malinau, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, KKI Warsi, serta tujuh narasumber dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Bagi masyarakat Desa Metut, pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan upaya membuka peluang ekonomi baru yang bertumpu pada sumber daya yang telah lama tersedia di sekitar mereka.

Pada hari pertama, peserta diperkenalkan pada berbagai teknologi tepat guna yang dapat diterapkan secara mandiri di tingkat desa. Materi yang diberikan meliputi teknik pembuatan inokulan gaharu, pengolahan hasil perikanan, pembuatan pupuk organik, hingga produksi biochar menggunakan teknologi pirolisis.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis. Sebanyak 12 perempuan mengikuti praktik pengolahan ikan bandeng dan ikan purut menjadi produk bernilai tambah seperti abon ikan, fish rice crackers, dan kerupuk bawang ikan gunting. Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana komoditas yang selama ini hanya dikonsumsi atau dijual dalam bentuk segar dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Di sisi lain, peserta lainnya mempelajari pembuatan pupuk organik dan biochar. Berbagai pertanyaan muncul selama sesi berlangsung, mulai dari teknik produksi hingga peluang penerapan dalam kegiatan pertanian masyarakat. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap inovasi yang dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan-bahan yang harus didatangkan dari luar desa.

Memasuki hari kedua, proses pembelajaran berlanjut ke praktik lapangan. Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Gaharu Desa Metut bersama peserta lainnya melakukan penyuntikan inokulan pada dua jenis tegakan yang tumbuh di desa, yakni lelak dan tengon. Melalui praktik langsung tersebut, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh keterampilan teknis yang dapat diterapkan secara mandiri setelah kegiatan berakhir.

Salah satu temuan menarik dalam pelatihan ini adalah kemudahan memperoleh bahan baku yang dibutuhkan. Sebagian besar bahan pembuatan inokulan dapat ditemukan di lingkungan sekitar desa, seperti gedebok pisang, kentang, beras, serasah, dan berbagai bahan organik lainnya. Demikian pula dengan bahan baku pengolahan ikan yang berasal dari sumber daya perairan setempat.

Pendekatan berbasis potensi lokal ini menjadi penting karena memungkinkan masyarakat mengembangkan usaha dengan biaya yang relatif rendah serta memanfaatkan sumber daya yang selama ini belum dioptimalkan.

Komitmen untuk mendorong keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada pelatihan. Sebagai bentuk dukungan nyata, tim narasumber menghibahkan satu unit mesin pirolisis kepada Desa Metut. Mesin tersebut menjadi sarana penting bagi masyarakat untuk melanjutkan produksi biochar dan asap cair secara mandiri.

Dalam praktik yang dilakukan selama pelatihan, mesin pirolisis berhasil menghasilkan sekitar 6.000 mililiter asap cair yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pendukung dalam sektor pertanian maupun pengelolaan lahan. Sementara itu, pelatihan pembuatan pupuk organik turut mendorong masyarakat untuk mulai memilah limbah rumah tangga yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku, sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dapat menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal. Inovasi yang diperkenalkan tidak bergantung pada teknologi yang rumit maupun biaya yang tinggi, melainkan berangkat dari sumber daya yang telah tersedia di sekitar masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, para narasumber juga menyerahkan modul pelatihan kepada masyarakat sebagai panduan dalam mengembangkan berbagai keterampilan yang telah diperoleh. Harapannya, pengetahuan tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi berkembang menjadi praktik berkelanjutan yang mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat kemandirian desa, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedalaman.

Di Desa Metut, perubahan besar tampaknya sedang dimulai dari langkah-langkah sederhana: mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah, memanfaatkan limbah menjadi pupuk organik, serta mengembangkan potensi gaharu melalui teknologi yang dapat diterapkan sendiri oleh masyarakat. Dari sinilah harapan akan peningkatan kesejahteraan tumbuh, berakar pada kekuatan lokal yang selama ini telah dimiliki masyarakat.

Bagikan post ini: